A. Pengertian Cerpen dan Unsur Intrinsik
Cerpen menurut Marahimin (1999: 112) adalah cerita rekaan pendek, karena pendeknya biasanya tidak terdapat perkembangan dalam cerita itu, peristiwa singkat saja. Kepribadian tokoh atau tokoh-tokoh pun tidak berkembang dan tidak menyaksikan perubahan nasib tokoh-. tokoh ini ketika cerita ini berakhir. Dan ketika konflik yang hanya satu itu terselesaikan, maka kelanjutan kehidupan tokoh-tokoh dalam cerita itu diketahui
Cerpen Utomo (2009: 16) merupakan sebuah cerita rekaan yang lengkap (didalam bahasa Inggris disebut Selfcontained) : tidak ada, tidak perlu ada dan harus tidak ada tambahan lain dalam cerpen, perkembangan karakteristik memang tak seleluasa cerpen. Keterbatasan ruang ekspresi dalam cerpen tak memungkinkan bagi pengarang untuk melukiskan perkembangan karakter dengan leluasa, dalam cerita yang singkat, pengarang berkemungkinan menampilkan tokoh yang unik dan memikat pembaca untuk selalu mengikutinya.
Salah satu bentuk karya fiksi adalah cerpen, cerpen bagai sebuah karya fiksi menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang di idealkan, dunia imajinatif yang di bangun dengan berbagai unsur intrinsiknya seperti imajinatif yang dibangun dengan berbagai unsur intrinsiknya seperti peristiwa tokoh, latar, plot dan lain-lain yang kesemuanya tentu saja bersifat imajinatif.
Seperti yang disiratkan namanya, cerpen itu memang pendek, singkat bahkan ada ahli sastra yang memberiknya batasan sebagai “cerita yang habis dibaca dalam sekali duduk”. Didalam cerita yang singkat seperti itu, tentu saja tokoh-tokoh yang memegang peranan tidak banyak jumlahnya hanya seorang, atau sekitar empat orang paling banyak. Itupun tidak seluruh kepribadian tokoh atau tokoh-tokoh, itu diungkapkan di dalam cerita, fokus atau pusat perhatian hanya satu. Konflik hanya satu ketika cerita dimulai, konflik itu sudah hadir disitu, tinggal bagaimana menyelesaikannya saja (Marahimin, 1999: 113).
Unsur Intrinsik
Cerpen adalah salah satu karya sastra yang terbangun oleh unsur-unsur yang secara garis besar dibagi atas dua bagian, yaitu (1) Unsur intrinsik dan (2) unsur ekstrinsik. Unsur ekstrinsik adalah unsur dari luar suatu cerpen yang memengaruhi isi karya sastra tersebut misalnya ekonomi, politik, sosial dan lain-lain. Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun cerita dari dalam atas dari dirinya sendiri. Misalnya tokoh, alur, latar dan pusat pengisahan.
Menurut M. Saleh Saad (dalam Noor 2005 : 33 – 34) unsur-unsur intrinsik cerita rekaan (fiksi) adalah tokoh, latar, alur dan pusat pengisahan, sedang menurut MS Hutagalung, unsur-unsur intrinsik puisi antara lain, musikalitar, korespondensi dan gaya, sedang unsur-unsur intrinsik drama, menurut Effendi ialah alur dan konflik yang berwujud dalam gerak dan dialog atau cakapan.
Unsur instrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur tersebut yang menyebabkan hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur instrinsik sebuah cerpen adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita kepaduan antar berbagai unsur instrinsik yang membuat sebuah cerpen yang berwujud. Unsur yang dimaksud, untuk menyebutkan peristiwa, cerita, plot atau alur tokoh, tema, latar sudut pandang penceritaan bahasa atau gaya bahasa (Nurgiyantoro, 2002:23).
Dalam penelitian ini hanya akan diuraikan unsur dalam (instrinsik) yang secara langsung berkaitan dengan penelitian ini antara lain tokoh,,penokohan, dan latar.
1. Tokoh
Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berkelakukan dalam berbagai peristiwa dalam cerita (Sudjiman, 1991: 16). Tokoh merupakan unsur penting dalam cerpen. Tanpa tokoh tidak akan dijumpai peristiwa yang dihadirkan pengarang, karena tokoh merupakan perilaku suatu peristiwa tertentu dalam cerita. Seorang pengarang harus dapat menuliskan sifat pribadi atau watak para tokoh dengan sebaikbaiknya.
Tokoh mempunyai arti penting dalam cerita karena tokoh-tokoh tersebut saling berhubungan sehingga menimbulkan konflik yang akan membawanya pada masalah-masalah yang menjadi dasar cerita. Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa dengan berkelakukan dalam berbagai peristiwa dalam tokoh umunnya berwujud manusia, tetapi dapat pula berwujud binatang atau benda yang diingsankan. Tokoh cerita menurut Abrams (melalui Nurgiyantoro, 2002:165) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.
Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampaian pesan, amanat, moral atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. Tokoh cerita seolah-olah hanya sebagai corong penyampai pesan, bahkan merupakan refleksi pikiran, sikap, pendirian dan keinginan-keinginan pengarang (Nurgiyantoro, 2002 : 1 68)
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tokoh adalah pelukisan seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita dengan melihat karakter atau waktu yang harus diperankan.
2. Penokohan
Penokohan adalah pelukisan mengenai tokoh cerita baik keadaan lahirinya maupun batinnya yang dapat berupa pandangan hidup, sikapnya, kekayaannya, adat istiadat dan sebagainya (Suharianto, 1982 : 31).
Watak tokoh dapat disimpulkan pembaca dari pikiran, cakapan, dan lakuan tokoh yang disajikan pengarang, bahkan dari penampilan fisiknya serta dari gambaran lingkungan atau tempat tokoh, cakapa n dan lakuan tokoh demikian pula pikiran tokoh yang dipaparkan oleh pengarang dapat menyiratkan sifat wataknya (Sujdiman, 1991: 36)
3. Latar atau setting.
Latar disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa atau latar, bersama dengan tokoh dan plot, ke dalam fakta sebab ketiga hal inilah yang akan dihadapi dan dapat diimanjinasi oleh pembaca secara faktual jika membaca cerita (Nurgiyantoro, 2002 : 216).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa latar menyangkut keterangan-keterangan mengenai waktu, suasana dan tempat terjadinya peristiwa dalam cerpen tersebut. Unsur latar dapat dibedakan kedalam tiga unsur pokok, yaitu tempat, waktu dan suasana. Ketiga unsur itu kalau masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri pada kenyataannya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.
a. Latar tempat
Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. untuk tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas. Latar tempat dengan namanama hasuslah mencerminkan, atau paling tidak bertentangan dengan sifat dan keadaan geografis tempat yang bersangkutan. Masing-masing tempat tertentu memiliki karakteristiknya sendiri yang membedakannya dengan tempat yang lain (Nurgiyantoro, 2002: 227)
Penyebutan latar tempat yang tidak ditunjukkan secara jelas namanya, mungkin disebabkan perannya dalam karya yang bersangkutan kurang dominan. Unsur latar sebagai bagian keseluruhan karya dapat jadi dominan dan koherensif, namun hal tersebut lebih ditentukan oleh unsur latar yang lain (Nurgiyantoro, 2002:229).
b. Latar waktu
Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah hal tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya dengan peristiwa sejarah. Pengetahuan dan persepsi pembaca terhadap waktu sejarah dipergunakan untuk mencoba masuk ke dalam suasana cerita (Nurgiyantoro, 2002 : 230).
Latar waktu dalam fiksi dapat menjadi dominan dan fungsional jika digarap secara teliti, terutama jika dihubungkan dengan waktu sejarah. Unsur sejarah ke dalam karya fiksi akan menyebabkan waktu yang diceritakan menjadi bersifat khas, tipikal, dan dapat menjadi sangat fungsional sehingga tidak dapat diganti dengan waktu yang lain tanpa mempengaruhi perkembangan cerita. Latar waktu menjadi amat koheren dengan unsur cerita yang lain. Keipikalan unsur waktu dapat menyebabkan unsur tempat menjadi kurang penting, khususnya waktu sejarah yang berskala nasional (Nurgiyantoro, 2002: 231).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa latar menyangkut keterangan-keterangan mengenai waktu, suasana dan tempat terjadinya peristiwa dalam cerpen tersebut.
B. Nilai Pendidikan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata nilai berarti sifat-sifat yang penting atau berguna bagi kemanusiaan (KBBI Online). Sedangkan menurut Daroeso (1986:20 ) nilai adalah sesuatu atau hal yang dapat digunakan sebagai dasar penentu tingkah laku seseorang, karena sesuatu hal itu menyenagkan (pleasant), memuaskan (saflying) menarik (interest), berguna (believe). Nilai mengandung harapan atau sesuatu yang diinginkan oleh manusia. Karena itu nilai bersifat normative, merupakan keharusan (Dassollen) untuk diwujudkan dalam tingkah laku dalam kehidupan manusia.
Sementara itu menurut Amienudin (2002 :156), istilah nilai sebagai perangkat keyakinan atau perasaan yang memberikan corak khusus kepada pola pemikiran, perasaan, keterikatan maupun perilaku.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud nilai adalah suatu konsepsi abstrak mengenai baik buruknya perilaku yang selalu menjadi ukuran dalam proses interaksi sosial masyarakat.
Pendidikan adalah masalah yang sangat penting bagi manusia, karena pendidikan menyangkut kelangsungan hidup manusia, tidak cukup hanya tumbuh dan berkembang dengan dorongan instingnya saja. Pendidikan memang perlu bagi manusia karena hanya manusialah yang memerlukan pendidikan, pendidikan juga menyangkut kelangsungan bangsa apabila pendidikan itu maju dan diperhatikan betul-betul maka negara cepat berkembang dan semakin maju.
Dalam Dictionary of Education (melalui Ihsan, 2005:4) pendidikan adalah proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat di kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimum, sedangkan Ihsan (2005:1-2) berpendapat bahwa pendidikan adalah sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan.
Berpangkal dari pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai pendidikan adalah suatu yang diyakini kebenarannya dan mendorong orang untuk berbuat positif di dalam kehidupannya sendiri atau bermasyarakat. Sehingga nilai pendidikan dalam karya sastra disini yang dimaksud adalah nilai-nilai yang bertujuan mendidik seseorang atau individu agar menjadi manusia yang baik dalam arti berpendidikan. Menurut Notonegoro (dalam Kaelan, 2004:89) nilai pendidikan dalam karya sastra dibedakan atas empat macam yaitu: nilai moral, nilai kebenaran, nilai keindahan, dan nilai religius.
1. Nilai moral
Moral adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima mengenai perbuatan, sikap, berkewajiban dan sebagainya. Moral dapat pula disebut dengan akhlak budi pekerti dan susila (KBBI Online).
Menurut Schiller dan Tamera (2002:1) mengatakan bahwa untuk mencapai keutamaan seorang anak harus memiliki sikap sebagai berikut:
a. Suka menolong
Suka menolong adalah kebiasaan menolong dan membantu orang lain (Schiller dan Tamera, 2002:52). Kebiasaan menolong ini juga merupakan suatu perilaku yang dapat ditanamkan dengan selalu siap mengulurkan tangan dan dengan cara aktif mencari kesempatan untuk menyumbang.
b. Keteguhan hati dan Komitmen
Keteguhan hati dan komitmen adalah pendidikan moral yang baik untuk membentuk mental yang positif. Komitmen membuat seseorang bertahan dalam mencapai cita-cita, pekerjaan seseorang dan orang lain. Komitmen merupakan janji yang dipegang teguh terhadap keyakinan dan memberi dukungan serta setia kepada keluarga dan teman. Keteguhan hati dapat membuat seseorang menncapai citacitanya (Shiller dan Tamera, 2002:30).
c. Kerjasama
Menurut Schiller dan Tamera (2002:10) kerjasama adalah menggabungkan tenaga seseorang dengan tenaga orang lain untuk bekerja demi mencapai tujuan umum. Melalui kerjasama kita dapat menyelesaikan tugas dengan lebih cepat dan lebih mudah dari pada dikerjakan sendiri, ditambah pula dengan kegembiraan setiap orang karena bisa berbagi pekerjaan.
d. Kepedulian dan empati
Kepedulian dan empati didasarkan pada pemahaman perasaan diri sendiri dan memahami orang lain. Menurut Schiller dan Tamera (2002:2) kepedulian dan empati adalah cara kita menanggapi perasaan, pikiran, dan pengalaman orang lain karena kita secara alami merasakan kepedulian terahadap sesama agar berupaya mengenali pribadi orang lain dan keinginan membantu orang lain yang sedang dalam keadaan susah. Melalui empati, seseorang mengenali rasa kemanusiaan terhadap diri sendiri ataupun orang lain.
e. Humor
Menurut Schiller dan Tamera (2002:68) humor adalah kemampuan untuk merasakan dan menanggapi komedi dalam dunia seseorang dan dalam din kita sendiri. Dengan humor dapat membuat cerah, senang dalam kehidupan sehari-hari dalam situasi yang menggelikan.
f. Tanggung jawab
Tanggung jawab adalah perilaku yang menentukan seseorang bereaksi terhadap situasi setiap hari yang memerlukan beberapa keputusan (Shiller dan Tamera, 2002:131).
2. Nilai keindahan
Nilai keindahan adalah nilai yang bersumber pada rasa manusia (perasaan, estetis) (Kaelan, 2004:89). Pendidikan keindahan bertujuan agar semua anak mempunyai rasa keharuan terhadap keindahan, mempunyai selera terhadap keindahan, dan selanjutnya dapat menikmati keindahan (Ahmadi, 2001 : 21).
3. Nilai religius
Nilai religius merupakan nilai ke-Tuhanan, kerohanian yang tinggi dan mutlak bersumber dan keyakinan dan kepercayaan manusia terhadap Tuhannya. Sikap religius ini mencakup segala pengertian yang bersifat adikodrati (Damono, 1984:93). Nilai religius ini merupakan nilainilai pusat yang terdapat di masyarakat.
4. Nilai Kebenaran
Nilai kebenaran adalah nilai yang bersumber pada arah yang baik,benar. Pendidikan kebenaran selalu mempunyai rasa pembelaan trrhadap arah yang benar. (Ahmadi, 2001: 23).
Tidak ada komentar :
Posting Komentar